Minggu, 02 Januari 2011

Pasraman Kilat ajang berkesenian



Belum lama ini, Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul nampak meriah oleh pentas tarian dan lagu-lagu relegi anak. Mereka mengikuti Pasraman Kilat untuk belajar berkesenian dan bersosialisasi antar umat beragama. Keceriaan mereka adalah bukti bahwa kerukunan telah terpupuk dengan subur.

Panggung yang berada di samping Pura dibuka dengan penampilan tiga penari dari Pasraman Widya Bhakti Gunungkidul lewat tariannya berjudul Gembyok Anting-anting. Dilanjutkan dengan gending-gending jawa yang dilantunkan oleh Gema Jagadnatha berjudul Ladrang Slamet.

Lantas, puluhan anak kecil berbusana jawa asli Jogja pun menaiki panggung. Mereka berjejer rapi lalu menyanyikan lagu rohani berjudul Tri Wikrama dan Maha Agung Hyang Widhi. Kedua lagu itu dinyanyikan 17 anggota Pasraman Tunas Mekar asal Banguntapan. Lagu merdu itu diiringi musik akustik gitar dan ditambah dengan tiupan suling serta tepukan jimbe, alat musik semacam kendang.

Koordinator Pasraman Tunas Mekar, Isworo mengatakan kedua lagu itu sempat jadi dadakan. Pasalnya, mereka hanya diberi waktu seminggu untuk latihan sehingga Isworo pun memilih jenis lagu berbahasa Indonesia agar lebih mudah dihafal anak-anak. Meski demikian, penampilan mereka tidak mengecewakan, buktinya tepuk tangan gemuruh penonton mewarnai area panggung. “Dua lagu itu mengisahkan kemahakuasaan Tuhan sang pencipta. Tanpa Beliau kita tidak akan ada,” tutur Isworo.

Pasraman kilat yang digelar selama tiga hari itu juga dimeriahkan oleh kehadiran sendratari bertajuk Gugurnya Sang Subali. Sendratari ini diperankan 20 peserta pasraman dari Eka Dharma Kasian Bantul. Diadopsi dari kisah Ramayana, sendratari itu menceritakan pertempuran Subali dan Sugriwa melawan raksasa. Sampai pada akhirnya kelicikan Subali diketahui Rama. Panah pun berhembus ke tubuh Subali dan meninggal. “Sendratari ini merupakan pesan, bahwa ketidakjujuran dan kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebenaran,” ungkap I Ketut Idep Sukanaya, pengasuh Pasraman Eka Dharma.

Sementara itu, ketua panitia pasraman kilat I Nyoman Dharmayuda mengatakan, kegiatan ini rutin tiap tahun digelar. Selain mengisi liburan panjang selama lebaran, para peserta pasraman diharapkan bisa saling mengenal dan terbekali ilmu pendidikan agama baik teori dan praktek supaya lebih mendalam. “Anak-anak adalah modal bangsa, jadi kita harus membekali moral mereka supaya bisa menjadi generasi penerus yang tangguh,” harap Dharmayuda. (Tri Wahyu U.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar